Tips agar daging sate lebih empuk
Berikut adalah tips yang menarik untuk membuat daging sate lebih empuk. Karena lain dengan sup atau masakan berkuah lainnya, sate tidak bisa direbus terlebih dahulu untuk membuatnya lebih empuk…
1. Sebelum dibakar, lumuri daging sate yang sudah ditusuk dengan sedikit tepung kanji.
2. Pada saat dibakar, jangan sampai daging terkena api secara langsung,cukup terkena panasnya bara api. Proses pada saat membakarnya harus hati-hati. Jangan terlalu lama tapi cukup sampai dagingnya berubah warna saja. Bisa juga dengan bantuan daun pepaya, daging yang akan disate sebelum ditusukkan ke tusuk sate sebaiknya dibungkus dengan menggunakan daun pepaya selama ± 30 menit. Setelah diperam lalu sate dapat ditusukkan dan kemudian siap dibakar.
3. Agar tidak amis daging yang akan digunakan untuk membuat sate dapat direndam dengan menggunakan air kelapa. Cara ini hanya berlaku untuk daging kambing dan ikan tongkol.
4. Atau dapat juga menggunakan nanas seperti cara dibawah ini:
* Ambil 1 buah nanas matang, kupas hingga bersih dan buatlah jus nanas.
* Kemudian rendam daging yang sudah ditusuk ke dalam air nanas (jus nanas), biarkan 5-10 menit.
* Setelah direndam lalu sate sudah dapat dibakar seperti biasa
* Jangan merendam daging lebih dari 5 menit, karena daging akan mudah hancur.
Selamat mencoba terutama bagi yang kebanyakan dapat kupon daging kurban, he... klo sudah masak boleh diantar ke tempat saya, ditunggu ya....
Rabu, 24 November 2010
Minggu, 21 November 2010
Sepenggal cerita diujung waktu
Pagi itu tepatnya 6 november 2010 dengan keadaan perut yang belum sempat terisi aku berangkat bekerja. sesampainya ditempat kerja tiba-tiba datang seorang ibu sambil menggendong anaknya yang masih balita menawarkan sebuah jam tangan miliknya untuk dijual seharga 50 ribu rupiah kepada ku,katanya terpaksa dia menjual jam tangannya karena sudah tidak memiliki uang untuk membeli makan dan susu anaknya yang pagi itu belum makan serta untuk membeli obat untuk suaminya yang sedang tertimpa musibah kecelakaan, aku tertegun mendengarnya..
Dari logat bahasanya ku yakin dia bukan warga lokal mungkin dia berasal dari daerah sumatra atau sulawesi, dari pakaiannya terlihat dia bukan seperti seorang peminta-minta ataupun pengemis hanya seorang ibu yang terpaksa menjajakan jam tangannya karena kesulitan ekonomi dan demi memenuhi perut anaknya dengan sesuap nasi. dalam hatiku terbesit rasa iba..
Pada Awalnya sempat tersirat rasa curiga dan terlanjur ku tanyakan "benarkah barang ini punya ibu?" kurasa aku terlalu kasar menanyakannya tapi ketika ku dengar jawabnya tanpa ada nada tersinggung dia berkata "demi Allah, mbak jam ini milik saya sendiri.." dia bersumpah atas nama Mu ya Allah bergetar hatiku, tak inginku meragukannya lagi.
tapi... kali ini aku cuma punya uang 22 ribu rupiah di dompetku, uang terakhir yang ku punya hari itu yang ingin ku belanjakan untuk membeli makan pagi. walaupun ditangan q memang ada uang lebih dari yang dia minta tapi itu bukan milik ku.
Ya Allah... inikah jawaban atas doa ku beberapa hari yang lalu? doaku agar setiap hari aku diberi kesempatan untuk dapat bersedekah walaupun hanya dengan uang 500 rupiah.
ya Allah.. bagaimana aku bisa menolak membantu hamba Mu yang sedang kesusahan Engkaulah yang menuntunnya bertemu dengan ku, tak ingin aku membuatnya kecewa dan bagaimana bila seandainya aku yang berada diposisinya?
Akhirnya uang yang tadinya q niatkan membeli makan untuk makan pagi, ku berikan padanya dengan ikhlas dan ku sampaikan untuk menjual jam tangannya ke orang lain yang mungkin punya uang lebih banyak dari ku.
aku berharap kelak saat aku berada dalam kesusahan, pertolongan Mu juga datang pada ku ya Allah
semoga Allah selalu memberi kemudahan dan jalan terbaik untuk ummatNya.
Dari logat bahasanya ku yakin dia bukan warga lokal mungkin dia berasal dari daerah sumatra atau sulawesi, dari pakaiannya terlihat dia bukan seperti seorang peminta-minta ataupun pengemis hanya seorang ibu yang terpaksa menjajakan jam tangannya karena kesulitan ekonomi dan demi memenuhi perut anaknya dengan sesuap nasi. dalam hatiku terbesit rasa iba..
Pada Awalnya sempat tersirat rasa curiga dan terlanjur ku tanyakan "benarkah barang ini punya ibu?" kurasa aku terlalu kasar menanyakannya tapi ketika ku dengar jawabnya tanpa ada nada tersinggung dia berkata "demi Allah, mbak jam ini milik saya sendiri.." dia bersumpah atas nama Mu ya Allah bergetar hatiku, tak inginku meragukannya lagi.
tapi... kali ini aku cuma punya uang 22 ribu rupiah di dompetku, uang terakhir yang ku punya hari itu yang ingin ku belanjakan untuk membeli makan pagi. walaupun ditangan q memang ada uang lebih dari yang dia minta tapi itu bukan milik ku.
Ya Allah... inikah jawaban atas doa ku beberapa hari yang lalu? doaku agar setiap hari aku diberi kesempatan untuk dapat bersedekah walaupun hanya dengan uang 500 rupiah.
ya Allah.. bagaimana aku bisa menolak membantu hamba Mu yang sedang kesusahan Engkaulah yang menuntunnya bertemu dengan ku, tak ingin aku membuatnya kecewa dan bagaimana bila seandainya aku yang berada diposisinya?
Akhirnya uang yang tadinya q niatkan membeli makan untuk makan pagi, ku berikan padanya dengan ikhlas dan ku sampaikan untuk menjual jam tangannya ke orang lain yang mungkin punya uang lebih banyak dari ku.
aku berharap kelak saat aku berada dalam kesusahan, pertolongan Mu juga datang pada ku ya Allah
semoga Allah selalu memberi kemudahan dan jalan terbaik untuk ummatNya.
Jumat, 12 November 2010
My History Part 2
Hari pertama tinggal bersama keluarga ku, aku baru tahu ternyata selama ini keluarga ku tinggal di sebuah desa kecil di sebuah kecamatan yang berada di bawah kabupaten sampit dan cukup dekat dari rumah kakek cuma perlu menempuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai ke desa yang bernama parenggean itu.
Disana orang tua ku tinggal disebuah rumah kontrakan yang beratapkan daun berdindingkan kayu seadaanya dengan satu ruang depan yang dijadikan kamar tidur untuk abang ku yang tertua, sebuah ruang tengah yang hanya besekat dinding dijadikan tempat tidur orangtuaku dan kami berempat aku kakak perempuan ku dan kedua adik ku, kami tidur berempat dalam satu tempat tidur kemudian terdapat sebuah dapur kecil tempat memasak, mandi dan memcuci kami sekeluarga. Rumah yang bila hujan datang maka basahlah seisi rumah karena atapnya yang bocor maka sibuklah kami menampung air hujan dengan ember-ember kecil, membuat tidur jadi tidak enak karena kedinginan terkena percikan air hujan yang merembes, selain itu listrik cuma menyala seminggu sekali bayangkan betapa terpencilnya desa itu. Sangat jauh berbeda dengan rumah kakek ku yang besar, tidak pernah ada atap yang bocor, ada televise, listrik menyala 24 jam, tidur di ranjang dan tilam yang empuk.
Tapi aku tidak pernah merasa sedih aku baik-baik saja karena saat itu aku masih kelas 6 SD dan tidak tahu apa arti kemiskinan itu sebenarnya.. Sehari-hari mama bekerja berjualan nasi dan soto di depan sebuah SD yang berada tidak jauh dari rumah dan abah apabila magrib berlalu maka bersiap-siaplah dia pergi kepasar mendorong gerobak jualannya sampai menjelang tengah malam baru pulang kembali kerumah membawa hasil dagangannya untuk keperluan kami sekeluarga. Terkadang apabila hari hujan lebat, jualan mereka jadi tidak laku dan sepi peminat maka kerugianlah yang didapat dari hasil jualan mama dan abah, gali lobang tutup lobang untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa ada kemewahan itulah kehidupan hari-hari ku dimulai bersama orangtua ku.
Dengan susah payah mama dan abah mulai membangun sebuah rumah tepat disisi kontrakan yang kami tempati, tapi belum selesai rumah kami dibangun karena kekurangan biaya kami terpaksa harus keluar dari kontrakan karena kontrakan itu sudah dijual oleh pemilik rumah kepada orang lain, terpaksa kami tinggal dirumah yang belum selesai dibangun itu dengan seadanya Kamar-kamar yang belum bersekat, jendela yang cuma ditutup kayu, tidak ada plafon, dinding yang tidak diketam, tidak ada teras, lantai tanpa tikar, tidak ada air dan listrikpun belum terpasang tapi aku senang karena rumah itu lebih besar dari kontakan kami sebelumnya.
Aku mulai bersekolah lagi melanjutkan pendidikan SD ku yang tinggal 2 caturwulan lagi untuk lulus dan masuk smp, sekolah baru tak menyenangkan bagiku, aku masuk ke sekolah didekat rumah, sekolah kampung yang tidak bermutu. Sekolah yang tidak punya peraturan dan hukuman, murid-murid yang berangkat tanpa sepatu alias hanya pakai sandal jepit bahkan terkadang ada yang nyeker, anak-anak yang selalu berkata kasar, ruangan yang kotor tanpa ada yang bertugas piket, sangat jarang ada upacara bendera apalagi kegiatan bersama, guru yang tidak pernah ada ditempat karena sibuk mencari penghasilan tambahan dengan berjualan, murid-murid yang terabaikan datang dan pulang sekehendak hati tidak ada yang melarang tidak ada konsekuensi hukuman. Begitu buruknya SD ku kali ini, aku tidak bersemangat untuk sekolah selain karena guru yang jarang mengajar aku juga malu dengan keadaan fisik ku, begitu banyak anak-anak yang menghina dan mengolok-olok ku karena kebotakan ku, dampak penyakit tipes yang masih ku derita. Aku jadi minder dan tidak ada lagi prestasi yang ingin ku capai. Sangat jauh berbeda dengan sekolah ku dulu, sekolah yang bersih, senam setiap hari, guru yang tak pernah kosong, jam pelajaran yg selalu tepat, teman-teman yang baik, sopan dan terdidik, aku yang selalu ditunjuk sebagai petugas upacara dan yang pasti aku adalah juara kelas yang membuatku selalu bersemangat ke sekolah.
Akhirnya aku lulus dengan nilai yang lumayan dan tidak terlalu buruk tapi aku kecewa tidak menjadi juara, penyakit itu berdampak besar dalam kehidupanku membuat diri ku minder dengan kekurangan fisikku menutupi kecerdasan otakku. Ketika aku mulai masuk SMP aku tetap jadi anak yang pendiam tidak suka mengikuti kegiatan dan tidak punya teman. Hingga akhirnya aku berteman akrab dengan seorang murid baru yang otaknya encer yang selalu juara kelas namanya Nunik dia orang yang baik dan mau berteman dengan ku, kebetulan rumah kami berdekatan setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bersama dan kamipun satu kelas dan satu tempat duduk jadilah kami sahabat akrab. dia membawa pengaruh yang baik dan aku mulai bersemangat sekolah dan akhirnya aku lulus SMP sebagai peringkat 3 terbaik dan mengunggulinya, aku senang bisa membuat bangga kedua orang tuaku, dimana setiap pengambilan raport mama selalu membawa pulang bingkisan sebagai hadiah dari sekolah atas prestasiku.
Setelah beberapa tahun kemudian orangtuaku mulai membangun rumah kami, walaupun tidak sempurna. yang tadinya kami cuma memakai strongkeng yang meminjam dengan adik mama untuk penerangan dimalam hari akhirnya diganti dengan listrik,sumur yang harus slalu kami derek untuk memperoleh air diganti dengan air PDAM, membeli TV dan sofa baru. Abahpun tidak lagi bersusah payah mendorong gerobaknya setiap malam tapi kini sudah bisa menyewa sebuah ruko dipasar dan mama membuka warung sotonya didepan rumah.
Aku melanjutkan ke SMA sementara kedua adikku Nisa dan Yuyun masuk SMP dan kakak perempuan ku Evi satu-satunya yang beruntung dibanding kedua abang ku karena dia yang pertama kali bisa kuliah itupun dengan susah payah mama dan abah mencari biaya untuk keperluannya selama kuliah di kota untunglah ada sedikit bantuan dari adik mama yang cukup berada secara financial untuk membiayai kuliah kakakku. Sedangkan Kedua abangku Arif dan Budi setelah lulus SMA mereka tidak melanjutkan sekolahnya tapi harus bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri pergi merantau untuk bekerja, mungkin karena mereka laki-laki jadi tidak terlalu berminat untuk kuliah yang pasti mereka bekerja untuk meringankan beban mama dan abah.
Jarak SMA ku lumayan jauh yaitu sekitar 1 kilometer dalam sehari mesti pulang pergi menempuh jarak 2kilometer aku harus berjalan kaki setiap hari menaiki bukit ke sekolahku apabila siang hari tiba keringat akan menganak sungai karena teriknya matahari, ku anggap itu perjuangan yang kecil dibandingkan pengorbanan orangtuaku. Masa SMA ku cukup menyenangkan karena aku selalu mendapat peringkat 3 besar dan aku jadi anak IPA yang kata orang lumayan pintar klo bisa masuk IPA, aku mendapat beasiswa dan mamapun masih selalu membawa pulang bingkisan saat pembagian raport tiba, saat itu mulai banyak anak laki-laki yang menyukai ku ^_^ memasuki masa pubertas anak remaja, tapi aku tidak pernah berpacaran aku tak berani aku takut dosa, walaupun banyak teman-temanku yang melakukannya bahkan ada beberapa teman wanita ku yang terpaksa harus berhenti sekolah karena ketahuan hamil diluar nikah, jalan hidup yang sia-sia mereka telah menghancurkan cita-cita dan harapan orangtuanya.
Kegemaran ku membaca dan semua yang telah ku pelajari membawa ku mulai mengenal Islam agamaku, aku senang bisa sholat dibelakang Abah walaupun tidak setiap waktu. Ditambah lagi suatu ketika saat liburan kuliah kakak perempuan ku yang pulang kampong penampilannya berubah 180* yap………… rambut panjangnya yang indah kini tetutupi kain dan dia memakai jubah, memakai kaos kaki meskipun dia memakai sendal dan berkerudung lebar, dia menutup auratnya dan sholat 5 waktu tak pernah ketinggalan. Semua tercengan melihat perubahannya tapi menerimanya dengan senang, akupun suka melihatnya begitulah yang ku pelajari dari buku selayaknya seorang wanita muslimah. Setiap pulang kakakku membawakan buku2 tentang Allah dan islam, tentang batasan hubungan wanita dan laki-laki tentang haramnya berpacaran dan aku suka membacanya semakin membuka pikiranku tentang agama ku yang tidak pernah ada seorangpun yang mengajarinya pada ku tidak abah tidak pula mama mereka sibuk bekerja. Dan Aku berniat menutupi aurat ku setelah aku lulus sekolah. Alhamdulillah masih ada hidayah untukku.
Setelah sekian lama ujian besar dari Allahpun datang, malam itu kami hanya bertiga dengan Abah dirumah aku tidur berdua dengan adikku nisa karena mama dan adik bungsu ku sedang pergi ke sampit karena ada urusan, malam itu terdengar suara orang berteriak-teriak sambil menggedor-gedor rumah kami akupun terbangun dan keadaanya gelap gulita karena sedang mati lampu samar ku lihat jam dinding masih menunjukan pukul 1 dinihari tapi diluar terdengar sangat terang dan ramai. Ku buka jendela kemudian ada seseorang yang berteriak kepada ku “kebakaran-kebakaran”, dengan panik akupun membangunkan Abah dan memberitahunya dan adikku pun ikut terbangun. Ketika kami membuka pintu rumah tampak warga sangat ramai dijalanan dan api terlihat sangat besar dilangit ternyata ruko tempat abah berjualan dipasar yang letaknya tidak jauh dari rumah terbakar, aku menangis melihatnya Abahpun meninggalkan kami untuk melihat tokonya, sudah tidak ada yang tersisa… deretan ruko itu terbakar habis, habis jualah mata pencaharian abah. Kami cuma bisa menangis, ku lihat malam itu abah sholat mengadu pada yang kuasa makin sedih hatiku melihatnya tak ada yang bisa kulakukan. Ekonomi makin sulit dengan penghasilan berjualan mama yang pas-pasan kami hidup seadanya dengan hutang dimana-mana dan abahpun kembali seperti dahulu mendorong gerobak untuk berjualan dipasar.. aku kasihan melihat abah harus mendorong gerobak yang begitu berat setiap malam hari tiba. Beberapa bulan kemudian dengan bantuan salah seorang adik mama, orangtuaku mulai membuka warung kecil-kecilan didepan rumah untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah kami.
Saat kelulusan SMA adalah hal yang paling mendebarkan karena harus memenuhi standar kompetensi untuk dapat lulus dan hari itu hari terburuk dalam hidupku. Aku menangis tak terbendung lagi tak ku perdulikan semua guru dan teman-teman yang ikut menangis bersamaku kami hampir 50% tidak lulus. Aku tak pernah menangis didepan orang lain dan ini pertama kalinya bagi ku ujian terberat dalam hidupku, aku pulang sendirian sambil menangis sepanjang jalan dan sampai kerumah ku lihat kekecewaan dimata kedua orangtua ku atas kegagalanku dan aku sendiripun kecewa karena hanya cuma satu nilai ku yang tidak mencukupi aku gagal, luluh lantak dunia ku.
Beberapa minggu kemudian ada ujian susulan dan akupun lulus tapi rasanya tetap berbeda kupikir aku dan teman-teman lulus karena bantuan dari guru-guru ku
walaupun begitu aku tetap senang karena menjadi Salah seorang yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah sampai S1 disampit, aku senang akan melanjutkan sekolahku ke kota.
Disana orang tua ku tinggal disebuah rumah kontrakan yang beratapkan daun berdindingkan kayu seadaanya dengan satu ruang depan yang dijadikan kamar tidur untuk abang ku yang tertua, sebuah ruang tengah yang hanya besekat dinding dijadikan tempat tidur orangtuaku dan kami berempat aku kakak perempuan ku dan kedua adik ku, kami tidur berempat dalam satu tempat tidur kemudian terdapat sebuah dapur kecil tempat memasak, mandi dan memcuci kami sekeluarga. Rumah yang bila hujan datang maka basahlah seisi rumah karena atapnya yang bocor maka sibuklah kami menampung air hujan dengan ember-ember kecil, membuat tidur jadi tidak enak karena kedinginan terkena percikan air hujan yang merembes, selain itu listrik cuma menyala seminggu sekali bayangkan betapa terpencilnya desa itu. Sangat jauh berbeda dengan rumah kakek ku yang besar, tidak pernah ada atap yang bocor, ada televise, listrik menyala 24 jam, tidur di ranjang dan tilam yang empuk.
Tapi aku tidak pernah merasa sedih aku baik-baik saja karena saat itu aku masih kelas 6 SD dan tidak tahu apa arti kemiskinan itu sebenarnya.. Sehari-hari mama bekerja berjualan nasi dan soto di depan sebuah SD yang berada tidak jauh dari rumah dan abah apabila magrib berlalu maka bersiap-siaplah dia pergi kepasar mendorong gerobak jualannya sampai menjelang tengah malam baru pulang kembali kerumah membawa hasil dagangannya untuk keperluan kami sekeluarga. Terkadang apabila hari hujan lebat, jualan mereka jadi tidak laku dan sepi peminat maka kerugianlah yang didapat dari hasil jualan mama dan abah, gali lobang tutup lobang untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa ada kemewahan itulah kehidupan hari-hari ku dimulai bersama orangtua ku.
Dengan susah payah mama dan abah mulai membangun sebuah rumah tepat disisi kontrakan yang kami tempati, tapi belum selesai rumah kami dibangun karena kekurangan biaya kami terpaksa harus keluar dari kontrakan karena kontrakan itu sudah dijual oleh pemilik rumah kepada orang lain, terpaksa kami tinggal dirumah yang belum selesai dibangun itu dengan seadanya Kamar-kamar yang belum bersekat, jendela yang cuma ditutup kayu, tidak ada plafon, dinding yang tidak diketam, tidak ada teras, lantai tanpa tikar, tidak ada air dan listrikpun belum terpasang tapi aku senang karena rumah itu lebih besar dari kontakan kami sebelumnya.
Aku mulai bersekolah lagi melanjutkan pendidikan SD ku yang tinggal 2 caturwulan lagi untuk lulus dan masuk smp, sekolah baru tak menyenangkan bagiku, aku masuk ke sekolah didekat rumah, sekolah kampung yang tidak bermutu. Sekolah yang tidak punya peraturan dan hukuman, murid-murid yang berangkat tanpa sepatu alias hanya pakai sandal jepit bahkan terkadang ada yang nyeker, anak-anak yang selalu berkata kasar, ruangan yang kotor tanpa ada yang bertugas piket, sangat jarang ada upacara bendera apalagi kegiatan bersama, guru yang tidak pernah ada ditempat karena sibuk mencari penghasilan tambahan dengan berjualan, murid-murid yang terabaikan datang dan pulang sekehendak hati tidak ada yang melarang tidak ada konsekuensi hukuman. Begitu buruknya SD ku kali ini, aku tidak bersemangat untuk sekolah selain karena guru yang jarang mengajar aku juga malu dengan keadaan fisik ku, begitu banyak anak-anak yang menghina dan mengolok-olok ku karena kebotakan ku, dampak penyakit tipes yang masih ku derita. Aku jadi minder dan tidak ada lagi prestasi yang ingin ku capai. Sangat jauh berbeda dengan sekolah ku dulu, sekolah yang bersih, senam setiap hari, guru yang tak pernah kosong, jam pelajaran yg selalu tepat, teman-teman yang baik, sopan dan terdidik, aku yang selalu ditunjuk sebagai petugas upacara dan yang pasti aku adalah juara kelas yang membuatku selalu bersemangat ke sekolah.
Akhirnya aku lulus dengan nilai yang lumayan dan tidak terlalu buruk tapi aku kecewa tidak menjadi juara, penyakit itu berdampak besar dalam kehidupanku membuat diri ku minder dengan kekurangan fisikku menutupi kecerdasan otakku. Ketika aku mulai masuk SMP aku tetap jadi anak yang pendiam tidak suka mengikuti kegiatan dan tidak punya teman. Hingga akhirnya aku berteman akrab dengan seorang murid baru yang otaknya encer yang selalu juara kelas namanya Nunik dia orang yang baik dan mau berteman dengan ku, kebetulan rumah kami berdekatan setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bersama dan kamipun satu kelas dan satu tempat duduk jadilah kami sahabat akrab. dia membawa pengaruh yang baik dan aku mulai bersemangat sekolah dan akhirnya aku lulus SMP sebagai peringkat 3 terbaik dan mengunggulinya, aku senang bisa membuat bangga kedua orang tuaku, dimana setiap pengambilan raport mama selalu membawa pulang bingkisan sebagai hadiah dari sekolah atas prestasiku.
Setelah beberapa tahun kemudian orangtuaku mulai membangun rumah kami, walaupun tidak sempurna. yang tadinya kami cuma memakai strongkeng yang meminjam dengan adik mama untuk penerangan dimalam hari akhirnya diganti dengan listrik,sumur yang harus slalu kami derek untuk memperoleh air diganti dengan air PDAM, membeli TV dan sofa baru. Abahpun tidak lagi bersusah payah mendorong gerobaknya setiap malam tapi kini sudah bisa menyewa sebuah ruko dipasar dan mama membuka warung sotonya didepan rumah.
Aku melanjutkan ke SMA sementara kedua adikku Nisa dan Yuyun masuk SMP dan kakak perempuan ku Evi satu-satunya yang beruntung dibanding kedua abang ku karena dia yang pertama kali bisa kuliah itupun dengan susah payah mama dan abah mencari biaya untuk keperluannya selama kuliah di kota untunglah ada sedikit bantuan dari adik mama yang cukup berada secara financial untuk membiayai kuliah kakakku. Sedangkan Kedua abangku Arif dan Budi setelah lulus SMA mereka tidak melanjutkan sekolahnya tapi harus bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri pergi merantau untuk bekerja, mungkin karena mereka laki-laki jadi tidak terlalu berminat untuk kuliah yang pasti mereka bekerja untuk meringankan beban mama dan abah.
Jarak SMA ku lumayan jauh yaitu sekitar 1 kilometer dalam sehari mesti pulang pergi menempuh jarak 2kilometer aku harus berjalan kaki setiap hari menaiki bukit ke sekolahku apabila siang hari tiba keringat akan menganak sungai karena teriknya matahari, ku anggap itu perjuangan yang kecil dibandingkan pengorbanan orangtuaku. Masa SMA ku cukup menyenangkan karena aku selalu mendapat peringkat 3 besar dan aku jadi anak IPA yang kata orang lumayan pintar klo bisa masuk IPA, aku mendapat beasiswa dan mamapun masih selalu membawa pulang bingkisan saat pembagian raport tiba, saat itu mulai banyak anak laki-laki yang menyukai ku ^_^ memasuki masa pubertas anak remaja, tapi aku tidak pernah berpacaran aku tak berani aku takut dosa, walaupun banyak teman-temanku yang melakukannya bahkan ada beberapa teman wanita ku yang terpaksa harus berhenti sekolah karena ketahuan hamil diluar nikah, jalan hidup yang sia-sia mereka telah menghancurkan cita-cita dan harapan orangtuanya.
Kegemaran ku membaca dan semua yang telah ku pelajari membawa ku mulai mengenal Islam agamaku, aku senang bisa sholat dibelakang Abah walaupun tidak setiap waktu. Ditambah lagi suatu ketika saat liburan kuliah kakak perempuan ku yang pulang kampong penampilannya berubah 180* yap………… rambut panjangnya yang indah kini tetutupi kain dan dia memakai jubah, memakai kaos kaki meskipun dia memakai sendal dan berkerudung lebar, dia menutup auratnya dan sholat 5 waktu tak pernah ketinggalan. Semua tercengan melihat perubahannya tapi menerimanya dengan senang, akupun suka melihatnya begitulah yang ku pelajari dari buku selayaknya seorang wanita muslimah. Setiap pulang kakakku membawakan buku2 tentang Allah dan islam, tentang batasan hubungan wanita dan laki-laki tentang haramnya berpacaran dan aku suka membacanya semakin membuka pikiranku tentang agama ku yang tidak pernah ada seorangpun yang mengajarinya pada ku tidak abah tidak pula mama mereka sibuk bekerja. Dan Aku berniat menutupi aurat ku setelah aku lulus sekolah. Alhamdulillah masih ada hidayah untukku.
Setelah sekian lama ujian besar dari Allahpun datang, malam itu kami hanya bertiga dengan Abah dirumah aku tidur berdua dengan adikku nisa karena mama dan adik bungsu ku sedang pergi ke sampit karena ada urusan, malam itu terdengar suara orang berteriak-teriak sambil menggedor-gedor rumah kami akupun terbangun dan keadaanya gelap gulita karena sedang mati lampu samar ku lihat jam dinding masih menunjukan pukul 1 dinihari tapi diluar terdengar sangat terang dan ramai. Ku buka jendela kemudian ada seseorang yang berteriak kepada ku “kebakaran-kebakaran”, dengan panik akupun membangunkan Abah dan memberitahunya dan adikku pun ikut terbangun. Ketika kami membuka pintu rumah tampak warga sangat ramai dijalanan dan api terlihat sangat besar dilangit ternyata ruko tempat abah berjualan dipasar yang letaknya tidak jauh dari rumah terbakar, aku menangis melihatnya Abahpun meninggalkan kami untuk melihat tokonya, sudah tidak ada yang tersisa… deretan ruko itu terbakar habis, habis jualah mata pencaharian abah. Kami cuma bisa menangis, ku lihat malam itu abah sholat mengadu pada yang kuasa makin sedih hatiku melihatnya tak ada yang bisa kulakukan. Ekonomi makin sulit dengan penghasilan berjualan mama yang pas-pasan kami hidup seadanya dengan hutang dimana-mana dan abahpun kembali seperti dahulu mendorong gerobak untuk berjualan dipasar.. aku kasihan melihat abah harus mendorong gerobak yang begitu berat setiap malam hari tiba. Beberapa bulan kemudian dengan bantuan salah seorang adik mama, orangtuaku mulai membuka warung kecil-kecilan didepan rumah untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah kami.
Saat kelulusan SMA adalah hal yang paling mendebarkan karena harus memenuhi standar kompetensi untuk dapat lulus dan hari itu hari terburuk dalam hidupku. Aku menangis tak terbendung lagi tak ku perdulikan semua guru dan teman-teman yang ikut menangis bersamaku kami hampir 50% tidak lulus. Aku tak pernah menangis didepan orang lain dan ini pertama kalinya bagi ku ujian terberat dalam hidupku, aku pulang sendirian sambil menangis sepanjang jalan dan sampai kerumah ku lihat kekecewaan dimata kedua orangtua ku atas kegagalanku dan aku sendiripun kecewa karena hanya cuma satu nilai ku yang tidak mencukupi aku gagal, luluh lantak dunia ku.
Beberapa minggu kemudian ada ujian susulan dan akupun lulus tapi rasanya tetap berbeda kupikir aku dan teman-teman lulus karena bantuan dari guru-guru ku
walaupun begitu aku tetap senang karena menjadi Salah seorang yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah sampai S1 disampit, aku senang akan melanjutkan sekolahku ke kota.
Rabu, 10 November 2010
My History Part 1
Aku adalah seorang anak perempuan yang lahir di kota Sampit Kalimantan tengah, anak ke empat dari 6 bersaudara dengan 2 kakak laki-laki, 1 kakak perempuan dan 2 adik perempuan. Keluarga yang cukup besar bila dilihat dari masa sekarang karena mungkin waktu itu belum ada program KB yang dicanangkan oleh pemerintah ^_^.
Masa kecil ku cukup bahagia karena mungkin waktu itu aku belum tahu masalah orang dewasa, mama adalah seorang Ibu rumah tangga yang sibuk mengurus rumah tangga dan mengurus ke enam anaknya yang jarak kelahirannya hanya 2 tahun bahkan kedua adik ku hanya berjarak 1 tahun, cukup merepotkan tentunya mengurus rumah tangga dan anak-anak yang begitu banyak sendirian, tapi itulah ibu ku seorang wanita perkasa.
Abah waktu itu bekerja dibidang instalasi listrik, masa itu ku rasa orangtua ku cukup bahagia memiliki rumah diatas tanahnya sendiri dan dapat menghidupi ke enam anaknya dengan cukup.
Tapi ... Seiring berjalannya waktu aku tidak tahu entah kenapa kemudian abah berhenti dari pekerjaannya dan pergi merantau pulang kembali ke kota kelahirannya Kapuas untuk berdagang dan meninggalkan kami istri dan anak-anaknya.
Hal yang paling ku ingat di usia ku yang masih 5 tahun adalah saat rumah kami yang berada tepat diluar pagar batas PLN harus dijual kepada pihak PLN karena pihak PLN akan memperluas wilayah kantornya. Setelah itu mama membawa kami anak-anaknya untuk pergi ke Kapuas untuk menyusul abah.
Kami naik kapal dan melewati sungai-sungai yang panjang untuk pertama dan terakhir kalinya aku naik kapal sampai saat ini. kami tiba di kota Kapuas saat hari masih gelap, aku tidak tahu pasti apakah itu tengah malam atau subuh hari, yang ku ingat sesampainya kami ke rumah abah kedua orang tua ku bertengkar hebat dan mamapun menangis, aku hanya terdiam disudut ruangan tidak mengerti apa yang membuat mereka bertengkar? Mungkinkah karena abah yang pergi tak kunjung kembali? Entahlah. Melihat mama menangis adik bungsu ku yuyun pun ikut menangis, ku rasa umurnya saat itu masih belum genap 2 tahun karena dia masih minum asi.
Untuk pertama kalinya mereka bertengkar yang terekam dalam ingatan ku. makin hari makin sering mereka bertengkar dan akhirnya menjadi hal yang biasa melihat mereka setiap hari bertengkar, entahlah siapa yang salah?
Kemudian aku masuk usia sekolah dan sempat bersekolah Dasar di Kapuas tapi cuma 1 caturwulan karena berikutnya aku dipindahkan dan harus ikut kakek tinggal disampit untuk melanjutkan sekolah ku. Berpisah dari kedua orang tua ku dan saudara-saudara ku untuk waktu yang lama.
Aku tidak mengerti kenapa harus aku? Walaupun Ketiga kakak ku juga pernah dititipkan ditempat kakek tapi ku rasa tidak lebih lama dari ku.
Suatu saat ketika liburan sekolah aku di ajak adik mama ke kasongan untuk bertemu mama dan kedua adik ku, ketika itu mama baru pindah dari kota Kapuas ke kasongan. tapi kemudian mama kembali menitipkan ku karena mama harus pergi menjemput abah dan kakak-kakak ku yang masih di Kapuas untuk bersama-sama tinggal di kasongan dan akupun dibawa kembali pulang kesampit tanpa sempat melihat wajah mereka.
Akupun akhirnya melanjutkan sekolah ku ditempat kakek tanpa tahu bagaimana kehidupan kedua orangtua ku dan saudara-saudara ku disana. Sangat jarang mereka menjenguk ku selama hampir 6 tahun aku disampit apalagi abah aku bahkan tidak ingat lagi wajahnya.
Tak pernah mereka menjenguk ku untuk waktu yang lama, tak pernah mereka membelikan sepatu dan baju baru untuk ku, tak pernah memberikanku uang jajan dan buku, tak pernah merayakan lebaran bersama ku, tak pernah mengenalkan Allah pada ku. Banyak hal yang terlewatkan dimasa kecilku tidak seperti anak-anak lain yang mempunyai banyak cerita bersama orang tua mereka.
Akhirnya akupun terbiasa tanpa mereka, aku tidak merindukan mereka dan aku bahkan tidak pernah melihat wajah abah dan adik-adik ku sampai penyakit itu datang menimpaku.
Waktu kecil aku memang sering sakit-sakitan, entah berapa mantri yang telah kakek datangi untuk membawaku pergi berobat dan sudah tak terhitung berapa kali aku disuntik setiap kali jatuh sakit. .
Suatu hari saat aku duduk di bangku kelas 6 SD aku kembali jatuh sakit, aku masih ingat ketika itu kakek dengan sepeda ontelnya membonceng ku pergi dimalam hari kerumah seorang mantri untuk berobat tapi setelah beberapa hari sepertinya sakitku tidak ada perubahan bahkan tampak lebih parah dan kemudian kakek kembali membonceng ku pergi ke dokter yang lokasinya terletak di dekat pasar dan itu jarak yang cukup jauh untuk ditempuh menggunakan sepeda dan kemudian dokterpun menyatakan aku mengalami gejala penyakit tipes.
Aku tidak tahu stadium berapakah penyakit ku itu, sampai akhirnya aku merasakan kaki ku terasa amat sakit, kakiku tidak dapat menopang berat badan ku, kaki ku tidak bisa digerakkan aku lumpuh..
rambut ku satu persatu mulai rontok dan akhirnya kepala ku mulai mengalami kebotakan, aib bagi ku sebagai anak perempuan harus mengalami ini, Penyakit terparah yang pernah menimpa ku.
Mendengar kabar dari radio bahwa aku sakit parah akhirnya mama datang. mama merawat ku, memapahku bila aku ingin duduk, menyuapiku agar aku mau makan, memaksaku minum obat yang begitu banyak yang aku tidak suka, mama yang memandikanku dan menggendong ku bila aku hendak kebelakang, mama pergi keberbagai mantri untuk mengobatiku, dari satu mantri ke mantri yang lain demi kesembuhan ku. masa itu ku rasa rumah sakit sangat mahal atau mungkin belum ada? entahlah yang pasti tidak ada infus ditanganku aku hanya menjalani perawatan dirumah dengan mama sebagai perawat dan mantri yang sesekali datang untuk mengecek perkembanganku. aku tidak tahu berapa banyakkah biaya yang telah mama keluarkan untuk itu.
Sampai akhirnya suatu keajaiban terjadi atas kehendak Allah Swt dan mungkin memang belum saatnya kematian menjemputku ataukah karena doa ibu ku, aku tidak tahu tapi yang pasti akhirnya berangsur-angsur aku sembuh walaupun dengan kaki yang masih lemah aku mulai belajar berjalan sambil berpegangan.
waktu yang cukup lama menunggu aku sembuh hingga harus meninggalkan pelajaran ku dan terpaksa mengikuti ulangan semampuku agar aku tetap memperoleh rapor untuk dapat pindah mengikuti orangtuaku, aku bingung menjawab semua soal karena tak ada satupun yang ku bisa dan akhirnya peringkat pertama ku dikelas harus tergantikan menjadi peringkat 8, hal yang sangat menyedihkan bagiku saat itu, pulang dan pergi kesekolah yang biasanya aku berjalan kaki kali ini mesti diantar kakek ku dengan sepeda ontelnya.
Akhir kisah masa kecilku, penyakit ini membawa ku untuk bisa berkumpul dengan keluargaku, mungkin bila aku tidak pernah sakit seperti ini aku takan pernah diajak ikut bersama kedua orang tua ku. Aku percaya semua yang terjadi adalah kehendak Allah Swt.
mama tetaplah seorang ibu bagaimanapun waktu memisahkan, aku tetap menyayangi dan menghargai semua pengorbanannya. Mungkin perekonomian yang sulit yang membuat kedua orang tua ku terpaksa menitipkan anak-anaknya, mereka ingin kami tetap bersekolah demi masa depan kami tapi mereka tidak mampu membiayai kami semuanya sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Akhir kisah ku bersama kakek dan awal kehidupan baru ku bersama keluarga lamaku.
to Almarhum kakekku :
Semua kebaikan mu masih teringat jelas dalam memory ku, pengganti kedua orang tuaku saat mereka meninggalkanku semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi mu.
Masa kecil ku cukup bahagia karena mungkin waktu itu aku belum tahu masalah orang dewasa, mama adalah seorang Ibu rumah tangga yang sibuk mengurus rumah tangga dan mengurus ke enam anaknya yang jarak kelahirannya hanya 2 tahun bahkan kedua adik ku hanya berjarak 1 tahun, cukup merepotkan tentunya mengurus rumah tangga dan anak-anak yang begitu banyak sendirian, tapi itulah ibu ku seorang wanita perkasa.
Abah waktu itu bekerja dibidang instalasi listrik, masa itu ku rasa orangtua ku cukup bahagia memiliki rumah diatas tanahnya sendiri dan dapat menghidupi ke enam anaknya dengan cukup.
Tapi ... Seiring berjalannya waktu aku tidak tahu entah kenapa kemudian abah berhenti dari pekerjaannya dan pergi merantau pulang kembali ke kota kelahirannya Kapuas untuk berdagang dan meninggalkan kami istri dan anak-anaknya.
Hal yang paling ku ingat di usia ku yang masih 5 tahun adalah saat rumah kami yang berada tepat diluar pagar batas PLN harus dijual kepada pihak PLN karena pihak PLN akan memperluas wilayah kantornya. Setelah itu mama membawa kami anak-anaknya untuk pergi ke Kapuas untuk menyusul abah.
Kami naik kapal dan melewati sungai-sungai yang panjang untuk pertama dan terakhir kalinya aku naik kapal sampai saat ini. kami tiba di kota Kapuas saat hari masih gelap, aku tidak tahu pasti apakah itu tengah malam atau subuh hari, yang ku ingat sesampainya kami ke rumah abah kedua orang tua ku bertengkar hebat dan mamapun menangis, aku hanya terdiam disudut ruangan tidak mengerti apa yang membuat mereka bertengkar? Mungkinkah karena abah yang pergi tak kunjung kembali? Entahlah. Melihat mama menangis adik bungsu ku yuyun pun ikut menangis, ku rasa umurnya saat itu masih belum genap 2 tahun karena dia masih minum asi.
Untuk pertama kalinya mereka bertengkar yang terekam dalam ingatan ku. makin hari makin sering mereka bertengkar dan akhirnya menjadi hal yang biasa melihat mereka setiap hari bertengkar, entahlah siapa yang salah?
Kemudian aku masuk usia sekolah dan sempat bersekolah Dasar di Kapuas tapi cuma 1 caturwulan karena berikutnya aku dipindahkan dan harus ikut kakek tinggal disampit untuk melanjutkan sekolah ku. Berpisah dari kedua orang tua ku dan saudara-saudara ku untuk waktu yang lama.
Aku tidak mengerti kenapa harus aku? Walaupun Ketiga kakak ku juga pernah dititipkan ditempat kakek tapi ku rasa tidak lebih lama dari ku.
Suatu saat ketika liburan sekolah aku di ajak adik mama ke kasongan untuk bertemu mama dan kedua adik ku, ketika itu mama baru pindah dari kota Kapuas ke kasongan. tapi kemudian mama kembali menitipkan ku karena mama harus pergi menjemput abah dan kakak-kakak ku yang masih di Kapuas untuk bersama-sama tinggal di kasongan dan akupun dibawa kembali pulang kesampit tanpa sempat melihat wajah mereka.
Akupun akhirnya melanjutkan sekolah ku ditempat kakek tanpa tahu bagaimana kehidupan kedua orangtua ku dan saudara-saudara ku disana. Sangat jarang mereka menjenguk ku selama hampir 6 tahun aku disampit apalagi abah aku bahkan tidak ingat lagi wajahnya.
Tak pernah mereka menjenguk ku untuk waktu yang lama, tak pernah mereka membelikan sepatu dan baju baru untuk ku, tak pernah memberikanku uang jajan dan buku, tak pernah merayakan lebaran bersama ku, tak pernah mengenalkan Allah pada ku. Banyak hal yang terlewatkan dimasa kecilku tidak seperti anak-anak lain yang mempunyai banyak cerita bersama orang tua mereka.
Akhirnya akupun terbiasa tanpa mereka, aku tidak merindukan mereka dan aku bahkan tidak pernah melihat wajah abah dan adik-adik ku sampai penyakit itu datang menimpaku.
Waktu kecil aku memang sering sakit-sakitan, entah berapa mantri yang telah kakek datangi untuk membawaku pergi berobat dan sudah tak terhitung berapa kali aku disuntik setiap kali jatuh sakit. .
Suatu hari saat aku duduk di bangku kelas 6 SD aku kembali jatuh sakit, aku masih ingat ketika itu kakek dengan sepeda ontelnya membonceng ku pergi dimalam hari kerumah seorang mantri untuk berobat tapi setelah beberapa hari sepertinya sakitku tidak ada perubahan bahkan tampak lebih parah dan kemudian kakek kembali membonceng ku pergi ke dokter yang lokasinya terletak di dekat pasar dan itu jarak yang cukup jauh untuk ditempuh menggunakan sepeda dan kemudian dokterpun menyatakan aku mengalami gejala penyakit tipes.
Aku tidak tahu stadium berapakah penyakit ku itu, sampai akhirnya aku merasakan kaki ku terasa amat sakit, kakiku tidak dapat menopang berat badan ku, kaki ku tidak bisa digerakkan aku lumpuh..
rambut ku satu persatu mulai rontok dan akhirnya kepala ku mulai mengalami kebotakan, aib bagi ku sebagai anak perempuan harus mengalami ini, Penyakit terparah yang pernah menimpa ku.
Mendengar kabar dari radio bahwa aku sakit parah akhirnya mama datang. mama merawat ku, memapahku bila aku ingin duduk, menyuapiku agar aku mau makan, memaksaku minum obat yang begitu banyak yang aku tidak suka, mama yang memandikanku dan menggendong ku bila aku hendak kebelakang, mama pergi keberbagai mantri untuk mengobatiku, dari satu mantri ke mantri yang lain demi kesembuhan ku. masa itu ku rasa rumah sakit sangat mahal atau mungkin belum ada? entahlah yang pasti tidak ada infus ditanganku aku hanya menjalani perawatan dirumah dengan mama sebagai perawat dan mantri yang sesekali datang untuk mengecek perkembanganku. aku tidak tahu berapa banyakkah biaya yang telah mama keluarkan untuk itu.
Sampai akhirnya suatu keajaiban terjadi atas kehendak Allah Swt dan mungkin memang belum saatnya kematian menjemputku ataukah karena doa ibu ku, aku tidak tahu tapi yang pasti akhirnya berangsur-angsur aku sembuh walaupun dengan kaki yang masih lemah aku mulai belajar berjalan sambil berpegangan.
waktu yang cukup lama menunggu aku sembuh hingga harus meninggalkan pelajaran ku dan terpaksa mengikuti ulangan semampuku agar aku tetap memperoleh rapor untuk dapat pindah mengikuti orangtuaku, aku bingung menjawab semua soal karena tak ada satupun yang ku bisa dan akhirnya peringkat pertama ku dikelas harus tergantikan menjadi peringkat 8, hal yang sangat menyedihkan bagiku saat itu, pulang dan pergi kesekolah yang biasanya aku berjalan kaki kali ini mesti diantar kakek ku dengan sepeda ontelnya.
Akhir kisah masa kecilku, penyakit ini membawa ku untuk bisa berkumpul dengan keluargaku, mungkin bila aku tidak pernah sakit seperti ini aku takan pernah diajak ikut bersama kedua orang tua ku. Aku percaya semua yang terjadi adalah kehendak Allah Swt.
mama tetaplah seorang ibu bagaimanapun waktu memisahkan, aku tetap menyayangi dan menghargai semua pengorbanannya. Mungkin perekonomian yang sulit yang membuat kedua orang tua ku terpaksa menitipkan anak-anaknya, mereka ingin kami tetap bersekolah demi masa depan kami tapi mereka tidak mampu membiayai kami semuanya sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Akhir kisah ku bersama kakek dan awal kehidupan baru ku bersama keluarga lamaku.
to Almarhum kakekku :
Semua kebaikan mu masih teringat jelas dalam memory ku, pengganti kedua orang tuaku saat mereka meninggalkanku semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi mu.
Langganan:
Postingan (Atom)