Aku adalah seorang anak perempuan yang lahir di kota Sampit Kalimantan tengah, anak ke empat dari 6 bersaudara dengan 2 kakak laki-laki, 1 kakak perempuan dan 2 adik perempuan. Keluarga yang cukup besar bila dilihat dari masa sekarang karena mungkin waktu itu belum ada program KB yang dicanangkan oleh pemerintah ^_^.
Masa kecil ku cukup bahagia karena mungkin waktu itu aku belum tahu masalah orang dewasa, mama adalah seorang Ibu rumah tangga yang sibuk mengurus rumah tangga dan mengurus ke enam anaknya yang jarak kelahirannya hanya 2 tahun bahkan kedua adik ku hanya berjarak 1 tahun, cukup merepotkan tentunya mengurus rumah tangga dan anak-anak yang begitu banyak sendirian, tapi itulah ibu ku seorang wanita perkasa.
Abah waktu itu bekerja dibidang instalasi listrik, masa itu ku rasa orangtua ku cukup bahagia memiliki rumah diatas tanahnya sendiri dan dapat menghidupi ke enam anaknya dengan cukup.
Tapi ... Seiring berjalannya waktu aku tidak tahu entah kenapa kemudian abah berhenti dari pekerjaannya dan pergi merantau pulang kembali ke kota kelahirannya Kapuas untuk berdagang dan meninggalkan kami istri dan anak-anaknya.
Hal yang paling ku ingat di usia ku yang masih 5 tahun adalah saat rumah kami yang berada tepat diluar pagar batas PLN harus dijual kepada pihak PLN karena pihak PLN akan memperluas wilayah kantornya. Setelah itu mama membawa kami anak-anaknya untuk pergi ke Kapuas untuk menyusul abah.
Kami naik kapal dan melewati sungai-sungai yang panjang untuk pertama dan terakhir kalinya aku naik kapal sampai saat ini. kami tiba di kota Kapuas saat hari masih gelap, aku tidak tahu pasti apakah itu tengah malam atau subuh hari, yang ku ingat sesampainya kami ke rumah abah kedua orang tua ku bertengkar hebat dan mamapun menangis, aku hanya terdiam disudut ruangan tidak mengerti apa yang membuat mereka bertengkar? Mungkinkah karena abah yang pergi tak kunjung kembali? Entahlah. Melihat mama menangis adik bungsu ku yuyun pun ikut menangis, ku rasa umurnya saat itu masih belum genap 2 tahun karena dia masih minum asi.
Untuk pertama kalinya mereka bertengkar yang terekam dalam ingatan ku. makin hari makin sering mereka bertengkar dan akhirnya menjadi hal yang biasa melihat mereka setiap hari bertengkar, entahlah siapa yang salah?
Kemudian aku masuk usia sekolah dan sempat bersekolah Dasar di Kapuas tapi cuma 1 caturwulan karena berikutnya aku dipindahkan dan harus ikut kakek tinggal disampit untuk melanjutkan sekolah ku. Berpisah dari kedua orang tua ku dan saudara-saudara ku untuk waktu yang lama.
Aku tidak mengerti kenapa harus aku? Walaupun Ketiga kakak ku juga pernah dititipkan ditempat kakek tapi ku rasa tidak lebih lama dari ku.
Suatu saat ketika liburan sekolah aku di ajak adik mama ke kasongan untuk bertemu mama dan kedua adik ku, ketika itu mama baru pindah dari kota Kapuas ke kasongan. tapi kemudian mama kembali menitipkan ku karena mama harus pergi menjemput abah dan kakak-kakak ku yang masih di Kapuas untuk bersama-sama tinggal di kasongan dan akupun dibawa kembali pulang kesampit tanpa sempat melihat wajah mereka.
Akupun akhirnya melanjutkan sekolah ku ditempat kakek tanpa tahu bagaimana kehidupan kedua orangtua ku dan saudara-saudara ku disana. Sangat jarang mereka menjenguk ku selama hampir 6 tahun aku disampit apalagi abah aku bahkan tidak ingat lagi wajahnya.
Tak pernah mereka menjenguk ku untuk waktu yang lama, tak pernah mereka membelikan sepatu dan baju baru untuk ku, tak pernah memberikanku uang jajan dan buku, tak pernah merayakan lebaran bersama ku, tak pernah mengenalkan Allah pada ku. Banyak hal yang terlewatkan dimasa kecilku tidak seperti anak-anak lain yang mempunyai banyak cerita bersama orang tua mereka.
Akhirnya akupun terbiasa tanpa mereka, aku tidak merindukan mereka dan aku bahkan tidak pernah melihat wajah abah dan adik-adik ku sampai penyakit itu datang menimpaku.
Waktu kecil aku memang sering sakit-sakitan, entah berapa mantri yang telah kakek datangi untuk membawaku pergi berobat dan sudah tak terhitung berapa kali aku disuntik setiap kali jatuh sakit. .
Suatu hari saat aku duduk di bangku kelas 6 SD aku kembali jatuh sakit, aku masih ingat ketika itu kakek dengan sepeda ontelnya membonceng ku pergi dimalam hari kerumah seorang mantri untuk berobat tapi setelah beberapa hari sepertinya sakitku tidak ada perubahan bahkan tampak lebih parah dan kemudian kakek kembali membonceng ku pergi ke dokter yang lokasinya terletak di dekat pasar dan itu jarak yang cukup jauh untuk ditempuh menggunakan sepeda dan kemudian dokterpun menyatakan aku mengalami gejala penyakit tipes.
Aku tidak tahu stadium berapakah penyakit ku itu, sampai akhirnya aku merasakan kaki ku terasa amat sakit, kakiku tidak dapat menopang berat badan ku, kaki ku tidak bisa digerakkan aku lumpuh..
rambut ku satu persatu mulai rontok dan akhirnya kepala ku mulai mengalami kebotakan, aib bagi ku sebagai anak perempuan harus mengalami ini, Penyakit terparah yang pernah menimpa ku.
Mendengar kabar dari radio bahwa aku sakit parah akhirnya mama datang. mama merawat ku, memapahku bila aku ingin duduk, menyuapiku agar aku mau makan, memaksaku minum obat yang begitu banyak yang aku tidak suka, mama yang memandikanku dan menggendong ku bila aku hendak kebelakang, mama pergi keberbagai mantri untuk mengobatiku, dari satu mantri ke mantri yang lain demi kesembuhan ku. masa itu ku rasa rumah sakit sangat mahal atau mungkin belum ada? entahlah yang pasti tidak ada infus ditanganku aku hanya menjalani perawatan dirumah dengan mama sebagai perawat dan mantri yang sesekali datang untuk mengecek perkembanganku. aku tidak tahu berapa banyakkah biaya yang telah mama keluarkan untuk itu.
Sampai akhirnya suatu keajaiban terjadi atas kehendak Allah Swt dan mungkin memang belum saatnya kematian menjemputku ataukah karena doa ibu ku, aku tidak tahu tapi yang pasti akhirnya berangsur-angsur aku sembuh walaupun dengan kaki yang masih lemah aku mulai belajar berjalan sambil berpegangan.
waktu yang cukup lama menunggu aku sembuh hingga harus meninggalkan pelajaran ku dan terpaksa mengikuti ulangan semampuku agar aku tetap memperoleh rapor untuk dapat pindah mengikuti orangtuaku, aku bingung menjawab semua soal karena tak ada satupun yang ku bisa dan akhirnya peringkat pertama ku dikelas harus tergantikan menjadi peringkat 8, hal yang sangat menyedihkan bagiku saat itu, pulang dan pergi kesekolah yang biasanya aku berjalan kaki kali ini mesti diantar kakek ku dengan sepeda ontelnya.
Akhir kisah masa kecilku, penyakit ini membawa ku untuk bisa berkumpul dengan keluargaku, mungkin bila aku tidak pernah sakit seperti ini aku takan pernah diajak ikut bersama kedua orang tua ku. Aku percaya semua yang terjadi adalah kehendak Allah Swt.
mama tetaplah seorang ibu bagaimanapun waktu memisahkan, aku tetap menyayangi dan menghargai semua pengorbanannya. Mungkin perekonomian yang sulit yang membuat kedua orang tua ku terpaksa menitipkan anak-anaknya, mereka ingin kami tetap bersekolah demi masa depan kami tapi mereka tidak mampu membiayai kami semuanya sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Akhir kisah ku bersama kakek dan awal kehidupan baru ku bersama keluarga lamaku.
to Almarhum kakekku :
Semua kebaikan mu masih teringat jelas dalam memory ku, pengganti kedua orang tuaku saat mereka meninggalkanku semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar