Jumat, 12 November 2010

My History Part 2

Hari pertama tinggal bersama keluarga ku, aku baru tahu ternyata selama ini keluarga ku tinggal di sebuah desa kecil di sebuah kecamatan yang berada di bawah kabupaten sampit dan cukup dekat dari rumah kakek cuma perlu menempuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai ke desa yang bernama parenggean itu.

Disana orang tua ku tinggal disebuah rumah kontrakan yang beratapkan daun berdindingkan kayu seadaanya dengan satu ruang depan yang dijadikan kamar tidur untuk abang ku yang tertua, sebuah ruang tengah yang hanya besekat dinding dijadikan tempat tidur orangtuaku dan kami berempat aku kakak perempuan ku dan kedua adik ku, kami tidur berempat dalam satu tempat tidur kemudian terdapat sebuah dapur kecil tempat memasak, mandi dan memcuci kami sekeluarga. Rumah yang bila hujan datang maka basahlah seisi rumah karena atapnya yang bocor maka sibuklah kami menampung air hujan dengan ember-ember kecil, membuat tidur jadi tidak enak karena kedinginan terkena percikan air hujan yang merembes, selain itu listrik cuma menyala seminggu sekali bayangkan betapa terpencilnya desa itu. Sangat jauh berbeda dengan rumah kakek ku yang besar, tidak pernah ada atap yang bocor, ada televise, listrik menyala 24 jam, tidur di ranjang dan tilam yang empuk.

Tapi aku tidak pernah merasa sedih aku baik-baik saja karena saat itu aku masih kelas 6 SD dan tidak tahu apa arti kemiskinan itu sebenarnya.. Sehari-hari mama bekerja berjualan nasi dan soto di depan sebuah SD yang berada tidak jauh dari rumah dan abah apabila magrib berlalu maka bersiap-siaplah dia pergi kepasar mendorong gerobak jualannya sampai menjelang tengah malam baru pulang kembali kerumah membawa hasil dagangannya untuk keperluan kami sekeluarga. Terkadang apabila hari hujan lebat, jualan mereka jadi tidak laku dan sepi peminat maka kerugianlah yang didapat dari hasil jualan mama dan abah, gali lobang tutup lobang untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa ada kemewahan itulah kehidupan hari-hari ku dimulai bersama orangtua ku.

Dengan susah payah mama dan abah mulai membangun sebuah rumah tepat disisi kontrakan yang kami tempati, tapi belum selesai rumah kami dibangun karena kekurangan biaya kami terpaksa harus keluar dari kontrakan karena kontrakan itu sudah dijual oleh pemilik rumah kepada orang lain, terpaksa kami tinggal dirumah yang belum selesai dibangun itu dengan seadanya Kamar-kamar yang belum bersekat, jendela yang cuma ditutup kayu, tidak ada plafon, dinding yang tidak diketam, tidak ada teras, lantai tanpa tikar, tidak ada air dan listrikpun belum terpasang tapi aku senang karena rumah itu lebih besar dari kontakan kami sebelumnya.

Aku mulai bersekolah lagi melanjutkan pendidikan SD ku yang tinggal 2 caturwulan lagi untuk lulus dan masuk smp, sekolah baru tak menyenangkan bagiku, aku masuk ke sekolah didekat rumah, sekolah kampung yang tidak bermutu. Sekolah yang tidak punya peraturan dan hukuman, murid-murid yang berangkat tanpa sepatu alias hanya pakai sandal jepit bahkan terkadang ada yang nyeker, anak-anak yang selalu berkata kasar, ruangan yang kotor tanpa ada yang bertugas piket, sangat jarang ada upacara bendera apalagi kegiatan bersama, guru yang tidak pernah ada ditempat karena sibuk mencari penghasilan tambahan dengan berjualan, murid-murid yang terabaikan datang dan pulang sekehendak hati tidak ada yang melarang tidak ada konsekuensi hukuman. Begitu buruknya SD ku kali ini, aku tidak bersemangat untuk sekolah selain karena guru yang jarang mengajar aku juga malu dengan keadaan fisik ku, begitu banyak anak-anak yang menghina dan mengolok-olok ku karena kebotakan ku, dampak penyakit tipes yang masih ku derita. Aku jadi minder dan tidak ada lagi prestasi yang ingin ku capai. Sangat jauh berbeda dengan sekolah ku dulu, sekolah yang bersih, senam setiap hari, guru yang tak pernah kosong, jam pelajaran yg selalu tepat, teman-teman yang baik, sopan dan terdidik, aku yang selalu ditunjuk sebagai petugas upacara dan yang pasti aku adalah juara kelas yang membuatku selalu bersemangat ke sekolah.

Akhirnya aku lulus dengan nilai yang lumayan dan tidak terlalu buruk tapi aku kecewa tidak menjadi juara, penyakit itu berdampak besar dalam kehidupanku membuat diri ku minder dengan kekurangan fisikku menutupi kecerdasan otakku. Ketika aku mulai masuk SMP aku tetap jadi anak yang pendiam tidak suka mengikuti kegiatan dan tidak punya teman. Hingga akhirnya aku berteman akrab dengan seorang murid baru yang otaknya encer yang selalu juara kelas namanya Nunik dia orang yang baik dan mau berteman dengan ku, kebetulan rumah kami berdekatan setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bersama dan kamipun satu kelas dan satu tempat duduk jadilah kami sahabat akrab. dia membawa pengaruh yang baik dan aku mulai bersemangat sekolah dan akhirnya aku lulus SMP sebagai peringkat 3 terbaik dan mengunggulinya, aku senang bisa membuat bangga kedua orang tuaku, dimana setiap pengambilan raport mama selalu membawa pulang bingkisan sebagai hadiah dari sekolah atas prestasiku.


Setelah beberapa tahun kemudian orangtuaku mulai membangun rumah kami, walaupun tidak sempurna. yang tadinya kami cuma memakai strongkeng yang meminjam dengan adik mama untuk penerangan dimalam hari akhirnya diganti dengan listrik,sumur yang harus slalu kami derek untuk memperoleh air diganti dengan air PDAM, membeli TV dan sofa baru. Abahpun tidak lagi bersusah payah mendorong gerobaknya setiap malam tapi kini sudah bisa menyewa sebuah ruko dipasar dan mama membuka warung sotonya didepan rumah.

Aku melanjutkan ke SMA sementara kedua adikku Nisa dan Yuyun masuk SMP dan kakak perempuan ku Evi satu-satunya yang beruntung dibanding kedua abang ku karena dia yang pertama kali bisa kuliah itupun dengan susah payah mama dan abah mencari biaya untuk keperluannya selama kuliah di kota untunglah ada sedikit bantuan dari adik mama yang cukup berada secara financial untuk membiayai kuliah kakakku. Sedangkan Kedua abangku Arif dan Budi setelah lulus SMA mereka tidak melanjutkan sekolahnya tapi harus bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri pergi merantau untuk bekerja, mungkin karena mereka laki-laki jadi tidak terlalu berminat untuk kuliah yang pasti mereka bekerja untuk meringankan beban mama dan abah.


Jarak SMA ku lumayan jauh yaitu sekitar 1 kilometer dalam sehari mesti pulang pergi menempuh jarak 2kilometer aku harus berjalan kaki setiap hari menaiki bukit ke sekolahku apabila siang hari tiba keringat akan menganak sungai karena teriknya matahari, ku anggap itu perjuangan yang kecil dibandingkan pengorbanan orangtuaku. Masa SMA ku cukup menyenangkan karena aku selalu mendapat peringkat 3 besar dan aku jadi anak IPA yang kata orang lumayan pintar klo bisa masuk IPA, aku mendapat beasiswa dan mamapun masih selalu membawa pulang bingkisan saat pembagian raport tiba, saat itu mulai banyak anak laki-laki yang menyukai ku ^_^ memasuki masa pubertas anak remaja, tapi aku tidak pernah berpacaran aku tak berani aku takut dosa, walaupun banyak teman-temanku yang melakukannya bahkan ada beberapa teman wanita ku yang terpaksa harus berhenti sekolah karena ketahuan hamil diluar nikah, jalan hidup yang sia-sia mereka telah menghancurkan cita-cita dan harapan orangtuanya.

Kegemaran ku membaca dan semua yang telah ku pelajari membawa ku mulai mengenal Islam agamaku, aku senang bisa sholat dibelakang Abah walaupun tidak setiap waktu. Ditambah lagi suatu ketika saat liburan kuliah kakak perempuan ku yang pulang kampong penampilannya berubah 180* yap………… rambut panjangnya yang indah kini tetutupi kain dan dia memakai jubah, memakai kaos kaki meskipun dia memakai sendal dan berkerudung lebar, dia menutup auratnya dan sholat 5 waktu tak pernah ketinggalan. Semua tercengan melihat perubahannya tapi menerimanya dengan senang, akupun suka melihatnya begitulah yang ku pelajari dari buku selayaknya seorang wanita muslimah. Setiap pulang kakakku membawakan buku2 tentang Allah dan islam, tentang batasan hubungan wanita dan laki-laki tentang haramnya berpacaran dan aku suka membacanya semakin membuka pikiranku tentang agama ku yang tidak pernah ada seorangpun yang mengajarinya pada ku tidak abah tidak pula mama mereka sibuk bekerja. Dan Aku berniat menutupi aurat ku setelah aku lulus sekolah. Alhamdulillah masih ada hidayah untukku.


Setelah sekian lama ujian besar dari Allahpun datang, malam itu kami hanya bertiga dengan Abah dirumah aku tidur berdua dengan adikku nisa karena mama dan adik bungsu ku sedang pergi ke sampit karena ada urusan, malam itu terdengar suara orang berteriak-teriak sambil menggedor-gedor rumah kami akupun terbangun dan keadaanya gelap gulita karena sedang mati lampu samar ku lihat jam dinding masih menunjukan pukul 1 dinihari tapi diluar terdengar sangat terang dan ramai. Ku buka jendela kemudian ada seseorang yang berteriak kepada ku “kebakaran-kebakaran”, dengan panik akupun membangunkan Abah dan memberitahunya dan adikku pun ikut terbangun. Ketika kami membuka pintu rumah tampak warga sangat ramai dijalanan dan api terlihat sangat besar dilangit ternyata ruko tempat abah berjualan dipasar yang letaknya tidak jauh dari rumah terbakar, aku menangis melihatnya Abahpun meninggalkan kami untuk melihat tokonya, sudah tidak ada yang tersisa… deretan ruko itu terbakar habis, habis jualah mata pencaharian abah. Kami cuma bisa menangis, ku lihat malam itu abah sholat mengadu pada yang kuasa makin sedih hatiku melihatnya tak ada yang bisa kulakukan. Ekonomi makin sulit dengan penghasilan berjualan mama yang pas-pasan kami hidup seadanya dengan hutang dimana-mana dan abahpun kembali seperti dahulu mendorong gerobak untuk berjualan dipasar.. aku kasihan melihat abah harus mendorong gerobak yang begitu berat setiap malam hari tiba. Beberapa bulan kemudian dengan bantuan salah seorang adik mama, orangtuaku mulai membuka warung kecil-kecilan didepan rumah untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah kami.


Saat kelulusan SMA adalah hal yang paling mendebarkan karena harus memenuhi standar kompetensi untuk dapat lulus dan hari itu hari terburuk dalam hidupku. Aku menangis tak terbendung lagi tak ku perdulikan semua guru dan teman-teman yang ikut menangis bersamaku kami hampir 50% tidak lulus. Aku tak pernah menangis didepan orang lain dan ini pertama kalinya bagi ku ujian terberat dalam hidupku, aku pulang sendirian sambil menangis sepanjang jalan dan sampai kerumah ku lihat kekecewaan dimata kedua orangtua ku atas kegagalanku dan aku sendiripun kecewa karena hanya cuma satu nilai ku yang tidak mencukupi aku gagal, luluh lantak dunia ku.

Beberapa minggu kemudian ada ujian susulan dan akupun lulus tapi rasanya tetap berbeda kupikir aku dan teman-teman lulus karena bantuan dari guru-guru ku
walaupun begitu aku tetap senang karena menjadi Salah seorang yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah sampai S1 disampit, aku senang akan melanjutkan sekolahku ke kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar